www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws   www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws







<< May 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed

Tuesday, January 15, 2008
i cant cry hard enough

I’m gonna live my life Like everyday's the last Without a simple goodbye It all goes by so fast And now that you’ve gone I can’t cry hard enough No, I can’t cry hard enough For you to hear me now Gonna open my eyes And see for the first time I let go of you, like a child letting him go of his kite There he goes… up in the sky There he goes… beyond the clouds For no reason why… Can’t cry hard enough No, I can’t cry enough For you to hear me now Gonna look back in vain See you standing there When all that remains Just an empty chair And now that you’re gone I can’t cry hard enough No I can’t cry hard enough For you to hear me now There he goes… up in the sky There he goes… beyond the clouds For no reason why.. Can’t cry hard enough No I can’t cry enough For you to hear me now.. Song n lyric by William Brothers

Posted at 12:33 am by dua-ikan
Comments (2)  

Monday, October 02, 2006
Terobsesikah aku?

Semua ini berawal dari "hilangnya" Mas Ustad dari peredaran. Walhasil, pengajian rutin E-ta3lim mandek. Sehari, dua hari, tiga, empat, lima... hingga hampir genap dua pekan dia menghilang. Kabarnya juga simpang siur bagi sebagian orang. Aku sendiri lebih percaya pada Gaia, karena selama menghilang Gaia sempat mergokin Mas Ustad OL pada suatu tengah malam. Info terakhir waktu itu, alhamdulillah Mas Ustad sudah back to selera asal, yaitu di Timteng, setelah berminggu-minggu terkatung-katung di Kanada. karena flightnya tertunda-tunda. Setelah dua pekan ngilang. sekarang sih Mas Ustad sudah kembali muncul. Kendati demikian, celakanya, selama dia pergi sempat muncul banyak spekulasi. Banyakan juga apa yang berkecamuk dalam pikiranku sendiri. Yang kemungkinan Mas Ustad sakit sementara dia berada di negeri antah-berantah.... yang kemungkinan ditangkep polisi Kanada karena dia jenggotan (jadi mungkin dianggap pengikut Hambali :D) hingga kemungkinan Mas Ustad terbentur tembok, terus amnesia dan nggak inget apa-apa soal anak-anak E-Ta3lim (sinetron banget :))) Lucunya lagi, sempat muncul beberapa nama di Room 13 yang kucurigai itu adalah samaran dia. Misalnya si burn_heart_cold_head, si consider_more hingga si nomore_damnuserleft. Ketika aku konfirmasikan ke orangnya, dengan santainya Mas Ustad menjawab: "Ih.. jelas bukan aku... nggak kelas banget" Namun yang membuatku tercengang adalah kelanjutannya: "Ih... segitunya kamu terobsesi sama aku..." Ooooops... My God!

Posted at 12:18 am by dua-ikan
Make a comment  

Wednesday, August 23, 2006
Cowok atletis itu (Cerpenku yang satunya)

"Dia lagi...," batinku saat melihat pemuda bertopi yang sering lewat jalan depan rumah. Sosok atletis itu setiap sore dalam pekan-pekan ini selalu tampak berjalan lewat depan rumahku. Seperti biasa, dia mengenakan kemeja warna gelap yang selalu dikeluarkan, menutupi bagian atas celana denimnya. Ransel sport besar yang isinya tak terlalu banyak juga masih menyertainya. Sedangkan langkahnya tampak mantap dengan alas sepatu sport Eagle putihnya. Kalau dilihat lagak dan gayanya, mirip mahasiswa. "Tapi ini kan bukan musim penerimaan mahasiswa baru," pikirku. Seperti biasanya, saat melihatku, dia menundukkan kepalanya sedikit. Dan aku membalasnya dengan senang hati. Kendati tidak ada senyuman, namun wajahnya menunjukkan keramahan. Cowok atletis itu telah membuatku penasaran. Tapi rasa penasaran ini kusimpan rapat-rapat dalam hati. Bahkan Anna, sahabat terbaikku tak kuberi tahu. Dan kini aku jadi punya kegiatan rutin. Mejeng di teras depan rumah sambil pura-pura membaca Harry Potter: The Half Blood Prince, buku serial yang baru kubeli. Gara-gara cowok itu, aku belum selesai membaca buku yang sebenarnya sangat menarik itu. Padahal episode sebelumnya selesai kubaca kurang dari sehari. Betapa tidak. Bagiku kesempatan untuk melihat dia berjalan kini lebih menarik daripada petualangan Harry Potter di sekolah sihir. Bukan itu saja. Karena cowok misterius itu pula, aku membatalkan rencana yang sudah kususun dengan teman sebangkuku, Anna, untuk masuk Ekskul Basket, karena hari dan jamnya sama dengan kegiatan rutinku ngecengin cowok yang tak kutahu namanya itu. Anna sempat mencak-mencak waktu aku bilang itu. Aku juga tak pernah lagi pergi berenang dengan Dodi, adik bungsuku. Semua itu hanya agar aku tak melewatkan waktu untuk melihatnya saat lewat depan rumah. Lucunya, aku tak mengenal sama sekali cowok itu. Yang kutahu hanyalah empat hari dalam sepekan dia selalu lewat setiap sore. Mungkin dia tinggal di blok sebelah. Dan kebetulan saja jalan depan rumahku adalah jalan pintas menuju halte. Pernah suatu sore aku pura-pura akan pergi dengan sepeda motor kakakku, Benny, padahal aku hanya ingin membuntutinya. Sore itu kulihat dia masuk bus kota yang sama dengan yang membawaku ke sekolah setiap pagi. Yang paling parah, aku kini jadi jaga jarak dengan Indra, cowok Kelas III yang akhir-akhir ini dekat denganku. Bahkan berita Indra diterima PMDK pun kurang menarik. Aku hanya mengucapkan "selamat" dengan perasaan hambar ketika bertemu dengannya kemarin. Indra cukup keren. Tapi cowok itu lebih menarik. Sosoknya kelihatan lebih dewasa, dan matanya itu... ah... Aku tak bisa tidur gara-gara membayangkan mata elangnya. Dan... ups! Aku tak sadar kalau sejak tadi Harry Potter-ku kusimak dalam keadaan terbalik. Aku jadi tertawa sendiri. Begitulah. Gara-gara cowok itu aku jadi sering melamun. Dan itu membuat Anna tersinggung saat pagi harinya di sekolah, dia berceloteh di depanku namun aku hanya membalasnya dengan senyam-senyum sendiri, sementara pandanganku kosong. "Nah, lo... kamu ini kenapa sih Vit...," kata dia sembari mengayun-ayunkan tangannya di depan mukaku. "Emang kamu tadi ngomong apa?" tanyaku kalem. Anna menghela napas dan menggaruk-garuk kepalanya. "Aku tanya sama kamu. Bagaimana dengan rencana kita ikutan basket?" "Oh... itu. Aduh... bagaimana, ya?" tanyaku bimbang. Sementara itu kulihat Indra menghampiri kami. Persoalan baru nih... "Vit... Aku mau bicara sama kamu. Ntar sore ada waktu? Kutunggu di Kirana, ya?" Aku jadi ingat. Sore ini si cowok atletis akan lewat depan rumah. Ini membuatku ingin menolak. Padahal Indra seperti sengaja mengatakan "Kirana", favoritku untuk nongkrong, agar aku tertarik. Aku berpikir sejenak sebelum mengatakan, "Aduh, Ndra... sorry. Aku..." "Kali ini tolonglah, Vita," kata Indra dengan ekspresi menyedihkan. Sedangkan Anna yang ikut melihatnya cengar-cengir. "Baiklah," kataku akhirnya sambil beranjak, mencoba menghindar dari dua makhluk tengil itu. "Hei... Vita! Basketnya gimana? Besok pendaftaran terakhir nih...," seru Anna sambil buru-buru memberesi buku-bukunya dan menyusulku. "Kamu aja yang ikut," kataku cuek. "Nggak bisa. Kamu kan dulu yang punya ide. Besok ada pengarahan awal dari para instruktur. Besok kita daftar, ya Vit... Please..." Aku jadi nggak enak sama Anna. Akhirnya... "Oke deh," ucapku sambil lalu disambut jeritan membabi buta dari sahabatku itu. Sorenya, aku sangat menyesal karena harus melewatkan kesempatan ngeceng di depan rumah. Sekitar pukul empat sore aku diantar Benny ke Kirana. Di sana Indra sudah menunggu. Asal tahu saja, semula aku sangat ingin jadi pacar Indra. Aku pernah berkata pada Anna, kelak aku ingin menikah dengan Indra, atau cowok yang mirip dengannya. Tapi sejak ada cowok atletis itu... "Hai, Vit. Mau minum apa?" sambut Indra ramah. "Hai, es teler boleh," balasku sambil menaruh pantatku di kursi, berhadap-hadapan dengan Indra. Indra segera memesan dua es teler Kirana yang terkenal. "Vit, maaf kalau aku memaksa ketemu. Tapi kamu akhir-akhir ini seperti menghindariku.” Aku ingin mengatakan "benar, aku memang menghindari kamu" tapi yang keluar adalah, "Ah, itu hanya perasaanmu, Ndra." "Vit..." "Yup!" "Vit... aku... kehilangan kamu." Nah, kali ini aku terpana. "Maksudmu?" "Mungkin kamu pura-pura tidak merasakannya. Atau kamu memang tidak merasakan kalau aku... aku...," Indra tak meneruskan kalimatnya karena bersamaan dengan itu pelayan membawakan kami dua es teler. "Kamu kenapa, Ndra?" tanyaku tanpa perasaan harap-harap cemas sambil mencoba menebak kelanjutan kalimat itu ketika pelayan sudah pergi. "Vita... apa kamu selama ini tidak pernah merasa kalau aku selalu memperhatikan kamu? Aku sudah agak lega waktu itu karena kupikir perasaanmu sama denganku. Tapi sekarang kamu berubah, Vit." Untuk kali kedua aku terpana. Dan lebih terpana lagi ketika Indra menggenggam tanganku. Beberapa waktu lalu aku sangat menginginkan keadaan ini. Tapi saat ini... aku tak yakin lagi. "Aku sayang kamu, Vit. Aku ingin kamu jadi pacarku. Aku tahu juga kamu harus memikirkannya. Tapi semoga aku tak harus menunggu lama," kata Indra. Untuk kali pertama, aku bebas dari lamunan tentang cowok atletis itu. Aku ganti memikirkan Indra. Benarkah aku masih ingin jadi pacarnya? Benarkah aku masih ingin menikah dengannya kelak? Dan aku masih terus melamun saat sore hari berikutnya sudah berada di tempat latihan basket sekolah. Kalau bukan karena diseret Anna, aku tak akan berada di situ. Tiba-tiba terdengar pengumuman agar para anggota baru Ekskul Basket berkumpul di sudut lapangan untuk mengikuti pengarahan. Bagiku bukan pengumuman itu yang membuatku terkejut. Tapi yang mengumumkan adalah... cowok atletis itu! "Halo adik-adik... Barangkali adik-adik baru kali ini bertemu dengan saya," kata dia. Aku begitu terpana. "Dunia memang begitu sempit," pikirku. "Kenalkan. Saya Rudi. Instruktur baru di sini. Saya alumni sekolah kalian sebelum kuliah di Jakarta. Saya, isteri dan dua anak saya baru pindah lagi ke kota ini. Sebelumnya kami tinggal di ibukota," kata dia. Isteri? Anak? Jadi selama ini aku selalu ngecengin suami orang dan ayah dua anak? Aku terpana campur geli memikirkannya. Rasa penasaran itu hilang sudah ketika Rudi... eh... Pak Rudi menceritakan tentang bagaimana dia harus pindah lagi ke kota asalnya yang tak lain adalah kota tempatku tinggal, untuk menemani orang tuanya yang sakit-sakitan. Dan benar, dia tinggal beberapa blok dari rumahku. Aku baru tahu kalau beberapa pekan terakhir ini dia secara intensif melatih tim inti yang akan mengikuti invitasi basket tingkat provinsi. Jadi setiap sore ketika dia lewat depan rumah dan naik bus... memang untuk pergi ke sekolahku melatih tim basket! Aku tidak kecewa dengan kenyataan ini. Lebih dari itu, aku justru geli memikirkan apa yang terjadi. Aku masih merasa geli ketika sudah berada di bus yang membawaku pulang sore itu. Karena begitu penuh aku harus berdiri. Tapi gara-gara terbawa perasaan aku tak begitu peduli. Dan ketika aku melihat ke luar melalui kaca belakang, kulihat Indra dengan Astrea Grand-nya mengikuti bus yang kutumpangi. Aku tersenyum padanya. Dia terpana, sebelum kemudian membalas senyumanku. Untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan terakhir aku merasakan lagi getaran-getaran yang pernah kurasakan pada Indra. Panjang umur. Orang yang baru saya kupikirkan tiba-tiba muncul. Aku acungkan ibu jariku bersamaan ketika Indra melihat ke arahku. Kupastikan senyum di bibirku adalah senyum termanis yang pernah kutujukan padanya. Melihat ekspresiku, Indra kegirangan. Kukira dia mengerti isyarat yang kusampaikan.

Posted at 05:54 am by dua-ikan
Make a comment  

Episode cinta yang tak pernah ada (sepenggal cerita lalu)

Inilah Cerpenku (dimuat di SOLOPOS edisi 5 Agustus 2001).... Aku masih terpaku. Tak bisa berkata apa-apa. Entah karena baru saja menerima kenyataan pahit tadi pagi, bahwa aku nggak lulus seleksi masuk perguruan tinggi negeri yang aku idam-idamkan. Atau karena harus menerima kenyataan lainnya: Nug akan pergi dari kota tempat tinggal kami. Bukan pergi sebentar, tapi pergi yang lama, bahkan mungkin sangat lama. Bukan hanya ke kota lain, melainkan ke negara lain! Sedianya ini adalah kesempatan bagiku untuk memberi jawaban apakah aku akan menerima cintanya. Ceritanya, ini pertemuan kami yang terakhir sebelum dia melanjutkan pendidikannya menjadi seorang penerbang. Besok Nug sudah berada di Jakarta. Beberapa hari kemudian dia akan terbang ke Australia. Yah... memang tak ada yang menyangka. Nug yang banyak diremehkan orang, akhirnya lolos tes yang diadakan sebuah perusahaan penerbangan. Aku membayangkan, akan selalu terkenang sosok Nug yang selalu bermasalah dengan sinusitisnya. Tapi itu semua sudah berlalu. Nug akan segera menjadi penerbang. Nug yang sampai detik ini pun masih akrab dengan kemeja dekilnya, celana butut dan sandal jepit, beberapa bulan lagi akan mengenakan seragam putih biru khas penerbang yang pastinya akan membuat cewek-cewek keder. Ya, siapa sangka. Dan dari tadi kami hanya ngobrol ngalor ngidul nggak keruan, atau kalau bisa lebih jujur lagi dari tadi kami lebih banyak diam, saling memandang dan saling salah tingkah sendiri. Sementara waktu terus berjalan. Tak terasa kami sudah duduk di ruang tamu rumah orangtuaku selama dua jam. Aku tahu apa yang ada dalam pikiran Nug. Tapi aku tak berani bicara. Aku tak meragukan cinta Nug. Itu pasti. Aku bisa merasakan Nug menganggapku lebih dari sekadar teman masa kecil. Itu jelas terlihat dari isyarat-isyarat yang diungkapkannya. Selama ini Nug selalu menjadi pelindungku, pahlawanku. Dia rela masuk antrean panjang hanya agar aku kebagian tiket setiap kali mau pergi naik kereta api Prambanan Express ke Yogya. Travelling memang hobi kami berdua. Tanpa kuminta dia selalu mengirimkan buku-buku pelajaran bekasnya kepadaku, yang berstatus adik kelasnya. Yang paling kentara barangkali adalah waktu Nug tahu Anto mengirimiku surat cinta. Nug memperlihatkan ekspresi antara marah dan cemburu. Tapi itu segera hilang ketika dia tahu aku menolak cinta Anto. Ah… sudahlah… semua itu telah berlalu. Masih banyak isyarat lain yang membuatku yakin bahwa perasaan Nug sama denganku. Sampai kemudian Nug benar-benar menyatakannya pekan lalu. Hingga pagi tadi aku masih yakin akan jawabanku. Namun kini aku kembali ragu. Salah satunya gara-gara hasil ujian sialan itu. Itu membuat aku kini benar-benar minder di hadapan Nug! Oh, God! Help me please…. Mungkin masalahnya akan selesai kalau saja aku berani mengatakan: Aku juga mencintaimu, Nug. Aku mau menunggumu pulang dari Australia. Namun shit! Aku tak yakin lagi akan melakukan itu. Dan itu sungguh menggangguku. Dua jam pun berlalu. Nug masih berada di depanku. Berlagak menghela napas. Dia kurang lebih sama kakunya denganku. "Jadi bagaimana, Nik?" tanya Nug, akhirnya. "Aku.. aku harap kamu hati-hati di sana," kataku, asal-asalan. Tentu saja itu bukan jawaban yang diharapkan Nug. Ya Tuhan, ke mana kata-kata yang biasanya selalu lancar keluar dari mulutku. Nug lantas diam. "Kamu juga baik-baik di sini, ya," kata Nug lagi, parau. Aku mengangguk. Dan kami bersalaman agak lama. Setelah itu Nug berpamitan pada ayah dan ibu, dan berlalu. Hatiku menjerit lirih. Nug telah pergi. Dan kesempatan terakhir untuk bicara dari hati ke hati itu lenyap sudah. Bahkan aku tak berani menanyakan nomor telepon dan alamatnya di Australia. Betapa sedihnya. Sedangkan besok dia sudah jauh. Kami akan dipisahkan oleh bermil-mil jarak. Dan aku tak tahu apakah kesempatan itu akan datang lagi… Buntutnya, aku tak bisa tidur semalam suntuk. Melamunkan Nug, membuat mataku enggan terpejam. Semalaman aku hanya berhasil memicingkan mata, tapi tak kunjung tertidur. Hampir semalaman aku gunakan waktu untuk meresapi alunan musik dari album musik klasik yang diberikan oleh Nug beberapa waktu lalu, sebagai hadiah lulus SMA. Sebenarnya sudah sejak setahun lalu aku minta album itu. "Buat kenang-kenangan, Nug. Siapa tahu aku diterima di ITB dan harus tinggal di Bandung," kataku waktu itu, hanya bercanda. Ternyata kondisi sekarang berbalik 180 derajat. Nug yang ternyata akan pergi. Sedangkan aku? Lulus ujian pun tidak! Nug mengatakan lolos tes calon penerbang sambil menyerahkan album yang akhirnya selalu menemaniku saat sendiri. "Jaga baik-baik album ini, Nik. Kalau bisa jangan sampai rusak," kata Nug sebelum benar-benar memberikan album itu. Aku tersenyum sendiri. Kecut. Sebenarnya aku dan Nug sudah sama-sama tahu bahwa kami saling menyayangi. Tapi ternyata kami sama-sama pengecut untuk mengatakannya. Dan hari sudah hampir pagi ketika aku tiba pada sebuah kesimpulan, bahwa aku harus bicara padanya. Maka, persetan dengan semuanya. Aku berlari kencang ke arah rumah Nug yang berjarak satu blok dari rumahku. Aku terus berlari sekencang mungkin, tanpa menghiraukan tatapan heran orang-orang yang kutemui di jalan. Tapi yang kudapati di sana adalah rumah kosong. Dari tetangga sebelah aku tahu bahwa beberapa menit lalu seluruh penghuni rumah telah berangkat mengantar Nug ke bandara. Aku tercekat. Kuusap peluh yang menetes deras membasahi mukaku. Bersamaan dengan itu sekuntum kembang kopi jatuh di pelataran rumah Nug, seakan mewakili hatiku yang baru saja kehilangan orang tercinta. Nug telah pergi. Episode cinta itu telah usai sebelum dimulai. Namun di hatiku masih tersimpan sebuah harapan. Semoga cinta akan membawa Nug kembali.

Posted at 05:39 am by dua-ikan
Make a comment  

Saturday, August 19, 2006
Jagalah hati, gampang di lagu doang?

Kata Bang Ustadz Arifin Ilham, kita kudu menjaga hati. Khususnya kepada para isteri dan suami.... menjaga hati sangatlah penting. Bahkan hal ini menjadi kunci untuk mendapatkan surga dunia dan akhirat katanya. Subhanallah... Menjadi isteri/suami, kata Bang Arifin, ada dua syarat yang harus dipenuhi. Pertama, "afifah"... yaitu menutup hati serapat=rapatnya terhadap pihak lain. ati hanya miliki suami/isteri kita seorang. Wow... Kedua, ghalimah... berbuat yang terbaik untuk menyenangkan/membahagiakan/memuaskan pasangan. Indahnya... Tapi kenapa susah bener ya melaksanakan perkara yang satu ini? Kenapa menjaga hati kayaknya hanya mudah di lagu doang?

Posted at 06:33 am by dua-ikan
Make a comment  

Thursday, June 22, 2006
Penyeimbang

Kata orang, sesuatu yang berharga biasanya baru akan terasa berharga ketika telah hilang. Sehingga selalu terlambat untuk menyadarinya. Dan waktu tak bisa diputar ulang, kan? Tak ada gunanya lagi aku berkata: seandainya kemaren aku bersedia menolong... seandainya kemaren aku nggak memikirkan diri sendiri... seandainya kemaren pikiran aku nggak sedang ruwet... seandainya kemaren bos nggak marah-marah... seandainya... seandainya... "a friend in need is a friend indeed..." yeah... kamu benar... Mengingat pepatah itu, betapa buruknya aku sebagai teman. Aku bahkan nggak bisa disebut teman, am I? Benar-benar menyedihkan :(( Pelajaran penting. Orang harus lebih berhati-hati dalam berbicara, bertindak. Unles kita akan kehilangan habis-habisan seseorang yang begitu berarti dan berharga, yang telah membuat hidupmu seimbang, secepat tanpa kau sadari sebelumnya. Ikan-satu, I miss u.. I really do :(

Posted at 09:39 am by dua-ikan
Make a comment  

Tuesday, June 06, 2006
SP untuk doy

sekali lagi, suasana di kantor membuatku muak. ketika antarteman sendiri menohok dari belakang, dan saling menggunting di lipatan sambil bermain di air keruh..... dan berakting bak ular berkepala dua, demi asal bapak senang. dasar para penjilat! parahnya, inilah yang harus aku hadapi, walau harus menutup mata dan telinga rapat-rapat, atau mestikah aku tinggalkan semua ini... ya Allah.... help me please.....

Posted at 04:52 am by dua-ikan
Make a comment  

Thursday, April 20, 2006
Jatuh cinta titik

Pernahkah kamu jatuh cinta? Tertindih perasaan cinta yang tiba-tiba datang tanpa diundang (kayak jalangkung.. hi hi.....) Namanya jatuh cinta, pastilah diiringi mimpi dan angan yang melambungkan kita ke dunia lain (ini kan acaranya Harry Panca di Trans TV) Tapi jatuh cinta yang satu ini lain. Ini adalah "jatuh cinta titik". Namanya saja jatuh cinta titik, berarti bukan "jatuh cinta koma". Kenapa harus jatuh cinta titik? Ya karena harus titik, bukan koma. Dalam pelajaran tata bahasa Indonesia, "titik" mengakhiri sebuah kalimat. Dalam kasus ini, "titik" berarti tidak boleh ada embel-embel alias kelanjutan apa-apa yang mengiringi perasaan jatuh cinta tersebut. Jatuh cinta saja, tanpa ada harapan untuk bisa memiliki. Jatuh cinta saja, tanpa ada keinginan untuk mendapatkan. Jatuh cinta saja, hanya karena kita tidak bisa menolak datangnya perasaan cinta. Itu saja.

Posted at 05:35 am by dua-ikan
Make a comment  

Monday, April 10, 2006
Ketika

Ketika wanita berteriak, sesungguhnya dia ingin disayang Ketika wanita menangis, sesungguhnya dia ingin dibelai dan dipeluk Ketika wanita merendah, sesungguhnya dia ingin dipuji Ketika wanita berlari, sesungguhnya dia ingin dikejar Ketika wanita pergi, sesungguhnya dia ingin dibujuk (untuk kembali) Bahkan ketika wanita berdiam diri, sesungguhnya dia ingin diberi perhatian Dan mulialah seorang suami yang memiliki kepandaian menimang perasaan isterinya.

Posted at 04:02 am by dua-ikan
Make a comment  

Thursday, April 06, 2006
heart

Kata orang, the heart is just like the land, tanah and love is the plant, tumbuhan. As you see, there are many kind of plants. There’s a kind of plant, yang untuk bisa tumbuh harus ditanam benihnya, dirawat, disirami, dijaga, dilindungi. Ada juga yang cepat dan gampang tumbuh gak perlu perawatan yang significant tapi cepat dan gampang pula mati. Ada yang susah tumbuhnya dan sulit ngrawatnya tapi once tumbuh, bisa kuat seolah unbreakable. Ada yang susah nanamnya, sulit ngrawatnya, rentan dan gak bisa hidup lama. Ada juga jenis yang gak bisa tumbuh besar, apalagi kuat. Ada juga a kind of tanaman liar yang tumbuh dengan sendirinya, tidak ada yang pernah menanamnya, tapi bisa tumbuh subur, besar, kuat, walau tidak pernah disirami, diberi pupuk, dirawat ataupun dijaga. Dan biasanya jenis tanaman yang ini, tumbuh besar, rindang, kuat, wanteg dan tahan lama serta susah matinya.

Posted at 05:29 am by dua-ikan
Make a comment  

Next Page